animasi blog

Jumat, 29 Januari 2016

Contoh Cara Membuat dan Menulis Naskah Drama Berdasarkan Peristiwa Nyata

Contoh Cara Membuat dan Menulis Naskah Drama Berdasarkan Peristiwa Nyata

 Pada hakikatnya, inti karya sastra yang berupa drama adalah adanya konflik (pertentangan-pertentangan). Konflik-konflik tersebut ditata sehingga membentuk alur dan dikemuakakan dalam bentuk dialog. Bagaimanakah menentukan konflik dan bagaimana menulis naskah drama?
Untuk menulis karya sastra drama, kamu dapat memulainya dengan menentukan konflik, menyusun urutan peristiwa dalam satu babak, mengembangkan urutan peristiwa menjadi naskah drama satu babak, melengkapi dialog, mengomentari dan menyunting naskah drama. Untuk itu, ikutilah kegiatan pembelajaran berikut!

1. Menentukan Konflik

Tentunya kamu sering melihat konflik atau pertentangan-pertentangan itu di masyarakat, di sinetron, atau dalam kehidupanmu sendiri.

Menyusun naskah drama dapat kamu mulai dengan menentukan suatu konflik. Konflik dapat kamu temukan dengan mengamati konflik yang ada di sekitarmu, mengamati konflik dalam sinetron/film, atau membayangkan konflik yang pernah kamu alami.

Untuk mengidentifikasi konflik yang dikenal/dialami, tulislah salah satu konflik/pertentangan berdasarkan peristiwa nyata yang kamu sukai! Diskusikan pemilihan konflik dengan kelompokmu!

Misalnya konflik yang akan digambarkan adalah pertentangan anak dan orangtuanya karena orangtuanya mempunyai pekerjaan yang tidak sesuai dengan harapannya.

2. Menyusun Urutan Peristiwa untuk Satu Babak

Lengkapilah konflik yang telah kamu tentukan menjadi sebuah rangkaian cerita! Berilah nama tokoh-tokoh yang ada dalam rangkaian ceritamu! Nama tokoh tidak harus sama dengan nama tokoh aslinya dalam peristiwa nyata. Amati contoh berikut!
Asri seorang siswa SMP malu memiliki bapak seorang penjual bubur di gerobak. Dia marah karena ketika melihat bapaknya berjualan di sekolahnya, padahal dia pernah meminta ayahnya untuk tidak berjualan di sekolahnya. Sesampai di rumah Asri marah kepada ayahnya.
Ayahnya tetap berpendapat bahwa pekerjaannya mulia dan tidak harus ditinggalkan. Asri membandingkan ayahnya dengan ayah Shanti sahabatnya yang seorang pejabat dan selalu dibangga-banggakan Shanti.
Ternyata ayah Shanti ditangkap polisi karena korupsi dan masuk koran. Asri di sekolah kaget ketika melihat teman-temannya membicarakan penangkapan ayah Shanti yang dimuat di koran. Reaksi teman Asri di sekolah mencemooh Shanti yang selama ini terlalu membangga-banggakan jabatan ayahnya.
Guru menjelaskan bahwa tidak boleh memvonis Shanti karena kita tidak boleh menilai seseorang dari ayahnya. Dengan peristiwa itu, Asri menjadi sadar bahwa orang dinilai bukan karena orangtuanya tetapi karena prestasinya. Asri bangga meskipun ayahnya hanya seorang penjual bubur di gerobak dorong.

Baca sekali lagi rangkaian peristiwa yang akan kamu tulis dalam drama! Pilih bagian peristiwa yang akan kamu gambarkan dalam adegan! Tentukan berapa adegan yang akan kamu gambarkan!

Misalnya, dengan rangkaian peristiwa dalam konflik pada kegiatan tersebut dipilihlah peristiwa-peristiwa berikut.

(1) Peristiwa di rumah ketika bertemu ayahnya (adegan 1 timbulnya konflik)

(2) Peristiwa di sekolah ketika siswa dan guru membicarakan ayah temannya yang ditangkap polisi karena korupsi (adegan 2 penyelesaian).
Contoh Cara Membuat dan Menulis Naskah Drama Berdasarkan Peristiwa Nyata

3. Mengembangkan Urutan Peristiwa Menjadi Naskah Drama Satu Babak 

Pengembangan naskah drama dapat dilakukan dengan membayangkan dialog-dialog yang mungkin terjadi pada peristiwa yang dipilih. Amati pengembangan naskah drama berikut!

Contoh Naskah Drama Berdasarkan Peristiwa Nyata di Atas

Adegan 1

Dialog antara Asri dan Ayahnya mengenai profesi pekerjaan ayahnya yang dianggap oleh Asri ”sangat memalukan”.

Asri : Apapun alasannya, aku nggak mau tahu.

Ayah : Meskipun kita harus tidak makan?

Asri : Kalau begitu aku besok akan berhenti sekolah.

Ayah : Mengapa?

Asri : Untuk cari makan sendiri.

Ayah : Bukan begitu As

Asri : Pokoknya aku tidak mau, pilih aku berhenti sekolah atau bapak cari pekerjaan lain.

Ayah : Kamu tahu aku tidak punya keahlian apa-apa. Sejak ibumu masih hidup aku sudah menjalani pekerjaan ini. 20 tahun As!

Asri : Hasilnya … hanya begini-begini saja

Ayah : Bagi saya kamu dapat sekolah dan jadi anak yang sholekah itu sudah cukup.

Asri : Enak si Shanti. Ayahnya pejabat dan dihormati di mana-mana. Dia dengan Bangga dapat menunjukkan foto ayahnya yang sedang meresmikan sebuah bendungan.

Ayah : Terserah pendapatmu, biarlah ayah dengan pendirian ayah sendiri. Bagi Ayah, yang penting pekerjaan itu halal dan dapat digunakan sebagai alat beribadah. Aku mau sembahyang dulu. kamu juga belum sembahyang kan? (Ayah Asri masuk. Asri melemparkan tasnya dengan kesal lalu masuk mengikuti ayahnya)

Adegan 2

Kelas sedikit gaduh. Nampak beberapa siswa duduk di kelas. Pelajaran belum dimulai. Siswasiswa berebutan memegang koran dan menunjuk foto dalam koran. Asri masuk kelas dan sedikit terkejut melihat temannya berebut baca koran.

Toni : Nggak nyangka ya ternyata mobil mewah itu ….

Agus : Iya ya… nggak nyangka.

Asri : Ada apa ini?

Dewi : Itu..tuh ratu kelas kita… ternyata bokapnya ……!

Asri : Kenapa?

Dewi : Baca koran ini!

Asri : (menyahut koran yang di pegang Dewi) Kasihan Shanti!

Guru : Sudah masuk anak-anak! Segera bersiap! (Ketua kelas memimpin berdoa)

Guru : Ibu tahu, apa yang kalian ributkan hari ini.

Agus : Iya Bu…! Sekarang kita punya teman anak seorang koruptor!

Guru : Tidak boleh begitu Gus! Kita tidak boleh memvonis apa-apa terhadap Shanti. Anak tidak pernah minta dilahirkan dari orangtua yang bekerja sebagai apa pun.

Dewi : Tapi dia terlalu membangga-banggakan sebagai anak pejabat, Bu.Guru

Guru : Kita jangan pernah memandang anak siapa teman kita, pandanglah bagaimana perilaku dan prestasi teman kita itu. (mata Bu guru melirik Asri) Asri menunduk.

Guru : Sekarang kita mulai pelajaran Bahasa Indonesia. Buatlah puisi tentang seseorang yang kamu kagumi! (kelas hening sejenak, guru berjalan mengelilingi siswanya yang sedang membuat puisi)

Guru : Yang sudah selesai, saya minta membacakan di depan kelas.

Agus : Saya Bu! (Agus menuju ke depan kelas dengan mantap dan membaca puisinya)
Ibuku Pahlawanku 
Malam buta kau terjaga
Membawa bakul tua
Menjadi penjaja sayuran
Meski bukan pilihan
Kau mantap
menatap masa depan
Ibuku …………….!
Bagiku kau adalah pahlawan
Guru : Bagus, seorang bakul juga pahlawan. Siapa lagi yang sudah selesai?

Asri : Saya ingin mencoba Bu! (Asri berjalan pelan ke depan kelas)
Gerobakmu mengoyak sepi 
semua gang kau susuri
Tak peduli
orang yang penuh harga diri
menatapnya dengan risi
demi cita yang terpatri
dia yakin Tuhan selalu menemani
Guru : Puisimu belum diberi judul As? Apa judulnya?

Asri : Ayahku (jawabnya mantap)

Toni : Hebat! Ternyata penjual makanan keliling bisa mendidik anaknya selalu juara kelas. (terdengar bel istirahat berbunyi)

Guru : Puisi yang lain kita bacakan pada pelajaran berikutnya. Kita istirahat dulu.

Kelas : Hoore ! (semua teman-temannya berhamburan keluar)

Asri menunduk sendirian, dia bergumam lirih ……… Maafkan aku Ayah!

Bandingkan rangkaian cerita dengan drama yang dikembangkan! Apakah semua bagian cerita telah dikembangkan dalam drama? Tandailah bagaian drama yang menunjukkan hal-hal berikut!

a. Asri marah dengan ayahnya tetapi ayahnya tetap beranggapan bahwa pekerjaannya adalah pekerjaan mulia.

b. Asri menyadari bahwa seseorang akan dinilai dari prestasinya bukan dari pekerjaan ayahnya.

4. Latihan Melengkapi Dialog dari Rangkaian Peristiwa dalam Gambar

Selain dengan pancingan konflik seperti yang telah dijelaskan di atas, penulisan naskah drama juga dapat dilakukan dengan mengamati gambar atau peristiwa yang menyentuh perasaan.

Ikutilah langkah-langkah penyusunan drama berikut!

a. Amati gambar di samping! Gambar pengemis kecil di tengah hujan lebat menadahkan tangan kepada penumpang mobil

b. Bayangkan apa saja yang bisa terjadi dengan tokoh-tokoh yang terlibat dalam gambar/peristiwa!

c. Buatlah rangkaian cerita dengan memikirkan mengapa pengemis kecil itu sungguh-sungguh mencari uang padahal hujan deras mendera? Mengapa tidak menunggu hujan reda? Apa yang bisa terjadi pada pengemis kecil itu dengan terus menadahkan tangan di tengah hujan tersebut?

Pilihlah peristiwa yang akan kamu gambarkan dalam dramamu! Misalnya, peristiwa di rumah mewah dan peristiwa di rumah pengemis kecil.

5. Mengomentari Naskah Drama yang Disusun

Naskah drama setiap kelompok dipasang di papan tulis! Setiap kelompok akan membaca hasil karya kelompok lain.

Komentarilah naskah drama yang disusun dari segi (1) kesesuaian dialog dengan peristiwa yang akan digambarkan, (2) kejelasan bahasa dalam dialog, (3) ketepatan bentuk drama, dan (4) kejelasan narasi (penjelasan) sehingga mudah dipentaskan.

6. Menulis dan Menyunting Naskah Drama

Setelah kamu berlatih menyusun naskah drama dengan rangkaian peristiwa yang sudah ditetapkan, sekarang kamu ditugasi menyusun naskah drama dengan menentukan sendiri rangkaian peristiwanya.

Tulislah rangkaian cerita dan susunlah sebuah naskah drama secara kelompok berdasarkan rangkaian cerita yang kamu buat!

Naskah drama yang kamu susun akan dinilai dari segi (1) keunikan konflik yang diangkat dalam naskah drama, (2) kelogisan penyelesaian konflik, (3) kesesuaian dialog dengan rangkaian peristiwa yang digambarkan, (4) kejelasan isi dialog, dan (5) kejelasan narasi (penjelasan) sehingga mudah dipentaskan.

Setelah selesai menulis, baca kembali naskahmu untuk keperluan penyuntingan atau tukarkanlah hasil pekerjaanmu dengan temanmu. Perbaikilah naskah drama itu berdasarkan hasil penyuntingan. Naskahmu siap untuk dimainkan dan diedarkan.

Perbedaan antara Teater dan Drama

 

Perbedaan antara Teater dan Drama

Istilah drama dan teater mengandung pengertian yang berbeda. Berikut ini dipaparkan beberapa uraian tentang istilah drama dan teater. Dalam Kamus Istilah Sastra dikemukakan bahwa drama adalah karya sastra yang memiliki tujuan menggambarkan kehidupan dengan mengemukakan tikaian dan emosi lewat lakuan dan dialog, lazimnya dirancang untuk pementasan panggung sedangkan teater adalah (1) istilah lain untuk drama dan (2) kumpulan karya drama seseorang atau suatu bangsa (Sudjiman (ed.) 1984: 20 dan 74).
Perbedaan antara Teater dan DramaMenurut M. Noor Said (2009: 1-3) teater berasal dari bahasa Yunani yaitu theatron yang berarti takjub memandang. Secara etimologis, teater adalah gedung pertunjukan atau auditorium. Sementara, dalam arti luas teater ialah segala tontonan yang dipertunjukkan di depan orang banyak. Namun dalam arti sempit, teater adalah drama, kisah hidup dan kehidupan manusia yang diceritakan di atas pentas dengan media: percakapan, gerak, dan laku didasarkan pada naskah yang tertulis. Ditunjang dengan dekorasi, musik, nyanyian, tarian, dan sebagainya. Misalnya wayang orang, ketoprak, ludruk, arja, reog, lenong, topeng, dagelan, dan sebagainya.
Teater sebagai tontonan mempunyai dua bentuk, yaitu teater modern dan teater tradisional. Teater tradisional tidak menggunakan naskah. Sutradara hanya menugasi pemain untuk memainkan tokoh tertentu. Para pemain dituntut mempunyai spontanitas dalam berimprovisasi tinggi. Contoh teater tradisional antara lain ludruk (Jawa Timur), ketoprak (Jawa Tengah), dan lenong (Jawa Barat). Teater modern menggunakan naskah yang dipegang teguh, dipatuhi dan dilaksanakan seluruhnya. Penataan panggung, musik pengiring, penataan lampu, percakapan dan gerak pemain harus mengikuti naskah.
Sementara itu, pengertian drama yaitu kisah hidup dan kehidupan manusia yang diceritakan di atas pentas, disaksikan oleh penonton, dengan media percakapan, gerak dan laku, dengan atau tanpa dekorasi (seting), didasarkan atas naskah yang tertulis (hasil dari seni sastra) dengan atau tanpa musik, nyanyian, dan tarian.

Kata drama berasal dari bahasa Yunani “draomai” yang berarti berbuat, berlaku, bereaksi, bertindak. Drama adalah kualitas komunikasi, situasi, action, (segala yang terlihat dalam pentas/panggung) yang menimbulkan perhatian, kehebatan, dan ketegangan pada pendengar atau penonton. Drama adalah cerita konflik manusia dalam bentuk dialog yang diproyeksikan pada pentas dengan menggunakan percakapan gerak di hadapan penonton.
Seni drama adalah suatu tontonan hasil perpaduan dari cabang seni lainnya antara lain:

1. Seni sastra untuk naskah cerita
2. Seni lukis untuk tata rias dan tata panggung
3. Seni musik untuk musik pengiring
4. Seni tari untuk gerak gerik pemain
5. Seni peran untuk pemeranan tokoh.

Beberapa istilah yang mempunyai kedekatan makna dengan drama, yaitu sebagai berikut.

1. Sandiwara
Istilah ini diciptakan oleh Mangkunegara VII, berasal dari kata bahasa Jawa sandhi yang berarti     rahasia dan warah yang berarti pengajaran. Oleh Ki Hajar Dewantara istilah sandiwara diartikan sebagai pengajaran yang dilakukan dengan perlambang atau secara tidak langsung.
2. Lakon
Lakon mempunyai beberapa arti, yaitu (1) cerita yang dimainkan dalam drama, wayang, atau film, (2) karangan yang berupa cerita sandiwara, dan (3) perbuatan, kejadian, peristiwa.

3. Tonil
Istilah tonil berasal dari bahasa Belanda toneel, yang artinya pertunjukan. Istilah ini popular pada masa penjajahan Belanda.

4. Pentas
Pengertian sebenarnya adalah lantai yang agak tinggi, panggung, tempat pertunjukan, podium, mimbar, tribun.

5. Sendratari
Kepanjangan akronim ini adalah seni drama dan tari, artinya pertunjukan serangkaian tari-tarian yang dilakukan sekelompok orang penari dan mengisahkan suatu cerita tanpa dialog.

6. Opera
Opera berarti drama musik, yaitu drama yang menonjolkan nyanyian dan musik.

7. Operet
Opera kecil, singkat, pendek.

8. Tablo
Tablo yaitu drama yang menampilkan kisah dengan sikap dan posisi pemain, dibantu oleh pencerita. Pemain-pemain tablo tidak berdialog.
Adrian Darma Wijaya membedakan ciri-ciri drama dan teater sebagai berikut.

1. Drama
  • drama tidak memerlukan pengucapan vokal yang cukup kuat, sebab diperkuat atau diambil oleh microfone
  • emosi tidak perlu kuat, sebab akan diperkuat oleh kamera yang mengambil secara short shoot atau close up
  • make up cukup tipis, sebab akan diperkuat oleh kamera
  • pengambilan adegan secara partial atau sebagian-sebagian yang dipotong-potong menjadi sangat pendek-pendek sesuai dengan yang akan diceritakan, sehingga adegan yang salah bisa diulang-ulang hingga mencapai seperti yang dikehendaki oleh sutradara
2. Teater
  • pengucapan vokal harus sangat kuat, sebab penampilan dilakukan di atas panggung dan vokal harus terdengar hingga penonton di barisan yang paling belakang
  • emosi atau perasaan harus ekstreem, sebab penampilan dilakukan di atas panggung dan emosi atau perasaan harus terlihat hingga penonton di barisan yang paling belakang
  • make up harus ekstrem, sebab penampilan dilakukan di atas panggung dan make up harus terlihat hingga penonton di barisan yang paling belakang.
  • adegan dari awal hingga akhir penampilan atau show harus sempurna, sebab tidak ada jeda atau pengulangan bagi adegan yang salah, salah pada salah satu adegan atau dialog, maka rusaklah semua performa yang sedang ditampilkan (http://groups.google.com/group/soc.culture.australian/)
Perbedaan drama dan teater adalah sebagai berikut.

1. Drama
  • Arti pertama dari Drama adalah kualitas komunikasi, situasi, actiom (segala yang terlihat di pentas) yang menimbulkan perhatian, kehebatan (axciting), dan ketegangan pada para pendengar.
  • Menurut Moulton : Drama adalah hidup yang dilukiskan dengan gerak (life presented in action).
  • Menurut Ferdinand Brunetierre : Drama haruslah melahirkan kehendak dengan action.
  • Menurut Balthazar Vallhagen : Drama adalah kesenian melukiskan sifat dan sifat manusia dengan gerak.
  • Arti kelima drama adalah cerita konflik manusia dalam bentuk dialog yang diproyeksikan pada pentas dengan menggunakan percakapan dan action dihadapan penonton (audience).
2. Teater
  • ada yang mengartikan sebagai “gedung pertunjukan”
  • ada yang mengartikan sebagai “panggung” (stage)
  • secara etimologi (asal kata), teater adalah gedung pertunjukan (auditorium).
  • dalam arti luas teater adalah kisah hidup dah kehidupan manusia yang dipertunjukan di depan orang banyak. Misalnya wayang orang, ludruk, lenong, reog, sulapan.
  • dalam arti sempit teater adalah kisah hidup dan kehidupan manusia yang diceritakan dalam pentas, disaksikan oleh orang banyak, dengan media, gerak, percakapan dan laku, dengan atau tanpa dekor (layar) didasarkan pada naskah yang tertulis (hasil seni sastra) dengan atau tanpa musik  
Ok guys itulah perbedaan antara Drama dan Teater. Semoga dapat bermanfaat buat kalian semua ya Gays. 

Kamis, 28 Januari 2016

Sejarah Dan Perkembangan Teater Dunia

Sejarah Dan Perkembangan Teater Dunia

     Teater seperti yang kita kenal sekarang ini, berasal dari zaman Yunani purba. Pengetahuan kita tentang teater bisa dikaji melalui peninggalan arkeologi dan catatan-catatan sejarah pada zaman itu yang berasal dari lukisan dinding, dekorasi, artefak, dan hieroglif. Dari peninggalanpeninggalan itu tergambar adegan perburuan, perubahan musim, siklus hidup, dan cerita tentang persembahan kepada para dewa. Sekitar tahun 600 SM, bangsa Yunani purba melangsungkan upacara-upacara agama, mengadakan festival tari dan nyanyi untuk menghormati dewa Dionysius yakni dewa anggur dan kesuburan. Kemudian mereka menyelenggarakan sayembara drama untuk menghormati dewa Dionysius itu.
     Menurut berita tertua, sayembara semacam itu diadakan pada tahun 534 SM di Athena. Pemenangnya yang pertamakali bernama Thespis, seorang aktor dan pengarang tragedi. Nama Thespis dilegendakan oleh bangsa Yunani, sehingga sampai sekarang orang menyebut aktor sebagai Thespian.
a. Teater Yunani Kuno
Di zaman Yunani kuno, sekitar tahun 534 SM, terdapat tiga bentuk drama; tragedi (drama yang menggambarkan kejatuhan sang pahlawan, dikarenakan oleh nasib dan kehendak dewa, sehingga menimbulkan belas dan ngeri), komedi (drama yang mengejek atau menyindir orangorang yang berkuasa, tentang kesombongan dan kebodohan mereka), dan satyr (drama yang menggambarkan tindakan tragedi dan mengolok-olok nasib karakter tragedi).
Tokoh drama tragedi yang sangat terkenal adalah; Aeschylus (525 – 456 SM), Sophocles (496 – 406 SM),dan Euripides (480 – 406 SM). Dan tokoh drama komedi bernama; Aristophanes (446 – 386 SM). Beberapa dari karya mereka masih tersimpan hingga sekarang. Dan sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Di antaranya; Prometheus Bound (Belenggu Prometheus) karya Aeschylus, Oedipus Rex, Oedipus Di Colonus, dan Antigone, karya Sophocles, terjemahan Rendra, Hippolytus karya Euripides, terjemahan… dan Lysistrata, karya Aristophanes, terjemahan Rendra. Drama-drama ini dibahas oleh Aristoteles dalam karyanya yang berjudul Poetic.

b. Teater Zaman Renaisance Di Ingggris (th. 1500 M – th. 1700 M)
Kejayaan teater di zaman Yunani kuno lahir kembali di zaman Renaissance. Di Inggris muncul dramawan-dramawan besar. Dan yang paling terkenal hingga sekarang adalah Williams Shakespeare (1564 – 1616). Beberapa karyanya diterjemahkan oleh Trisno Sumardjo, di antaranya; Romeo & Juliet, Hamlet, Machbeth, Prahara, dll.

c. Teater Zaman Renaisance Di Perancis (th. 1500 M – th. 1700 M)
Bangsa Perancis juga mengambil hikmah dari kejayaan teater Yunani kuno. Mereka menamakannya sebagai “neo klasik”. Artinya klasik baru. Di mana mereka telah memberi jiwa baru kepada gaya klasik Yunani kuno. Yaitu gaya yang lebih halus, anggun dan mewah. Di zaman itu muncullah Moliere (1622 M – 1673 M). Sebagaimana Williams Shakespeare, Moliere juga mengarang dan mementaskan karyakaryanya sendiri, sekaligus menjadi pemeran utamanya. Beberapa karyanya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, di antaranya: Si Bakhil, Dokter Gadungan, Akal Bulus Scapin, dll

d. Commedia Del ‘Arte Di Italia
Adalah bentuk teater rakyat Italia abad ke enambelas, yang berkembang di luar lingkungan istana. Drama ini dipertunjukkan di lapangan kota dalam panggung-panggung yang sederhana. Berdasarkan pada naskah yang berisi garis besar plot saja. Pelaku-pelakunya mengenakan topeng. Percakapan berlangsung spontan dan tanpa persiapan, diselingi nyanyian dan tarian yang bersifat menyindir. Teater rakyat tersebut memberi jalan ke arah timbulnya peran-peran pantomim tradisional (seperti Haelequin, Columbine). Ikut sertanya pemain-pemain wanita membuat Commedia Del ‘Arte terkesan lebih luwes.